[Cerpen] Kita Salah Kereta, By The Way

Tulisan ini tadinya mau disertakan dalam tantangan menulis @KampusFiksu #ehemkenalan. Tapi nggak sempat ditulis dan dikirim sesuai jadwal.


 

Ia tidak akan datang.

Gadis yang selalu membiarkan lengan kemejanya tidak terkancing tersebut, belum pernah terlambat menapaki tangga stasiun. Ia meliuk-liukan tubuh di antara penumpang yang memilih berdiri santai di eskalator. Beberapa pengguna eskalator berdecak kesal ketika ujung gulungan karton di tangannya mengenai bagian mereka. Sekarang, eskalator hanya menyisakan seorang laki-laki berusia lanjut dan seorang ABG yang mungkin cucunya.

Tentu saja, ini sudah terlalu siang untuk jam masuk kantor.Aku merasa bodoh bodoh, masih berharap ia tiba-tiba muncul, di belakang lansia tadi.

Sebuah kereta memasuki stasiun dari arah barat. Sudah dapat dipastikan bahwa aku akan mendapat teguran karena sampai di kantor beberapa menit sebelum makan siang. Namun, bukan itu yang membuat langkahku semakin gontai melintasi peron hingga ke bagian dalam kereta. Ini tentang aku yang tidak sanggup memenuhi janji, tentang ia yang tidak datang.

Bagaimana jika ia hanya terlambar, bukan tidak datang?

Aku meloncat dari pintu kereta yang hampir tertutup. Beberapa penumpang yang masih menunggu di peron, yang kebetulan menyaksikan aksiku barusan, tampak mengernyitkan dahi. Mungkin dalam hati, mereka mengatai aku gila. Bisa jadi tindakanku tadi gila, hanya saja ini adalah hal paling waras yang bisa aku putuskan saat ini.

Dengan tidak datang ke kantor, aku sudah menghilangkan kemungkinan untuk dimarahi. Dengan kembali menunggu di peron, aku mendapatkan kesempatan untuk (mungkin) bertemu dengannya. Bukankah jalanan ibukota semakin tidak waras belakangan ini? Ia bisa jadi sedang terjebak diantaranya atau…. ia sedang terjebak…..dalam oborlan membosankan di telepon…..di eskalator….

Waktu begerak dalam sebuah putaran lambat ketika ia berada di salah satu anak tangga eskalator. Gadis yang pagi ini tetap tidak mengancingkan lengan kemejanya tersebut berdiri dengan tenang, dengan keriuhan gulungan karton ditangannya.

Sengaja aku tolehkan wajahku agar ia tidak menyaksikan semu merah di wajahku. Beruntung sebuah kereta yang lain baru saja memasuki statisun, menyamarkan detak jantungku.

Aku memutar tubuhku dengan cara yang terlihat senormal mungkin. Namun ketika menyaksikan ia sudah berada di dalam kereta, aku tidak lagi mampu berpura-pura bersikap normal. Serta merta aku ikut melompat ke dalam gerbong kereta setelah menyambar satu gulungan karton kuning di permukaan peron.

“Ini punyamu” kataku sengaja memberikan senyuman terbaik yang bisa dihasilkan oleh jantung yang tidak bertedak normal ketika kereta mulai melaju.

“Mengapa kamu tetap menungguku?”tanyanya minim ekspresi.

Pertanyaannya memutarbalikan keadaan. Aku baru saja ingin menempatkan diri sebagai seorang dewa penolong, namun ia baru saja berteriak SKAK MAT!

Ia menyadari keberadaanku? Tapi, sejak kapan?

Aku berdehem sejenak, “Aku sudah berjanji.”

“Kepada siapa?” tanyanya, lagi-lagi tanpa menoleh ke arahku.

“Kepada diriku sendiri.” Sejak melihatmu di peron stasiun satu bulan yang lalu, aku berjanji akan menaiki gerbong yang sama dengamu.

Kalian harus mengetahui bagaimana sulitnya bersikap tennag padahal satu-satunya yang tidak tenang adalah jantung kalian sendiri. Rasa-rasanya aku ingin menerobos kaca jendela kereta dan melarikan diri. Tapi, satu bulan aku menaiki gerbong yang sama dengannya, menunggu konspirasi kosmik agar kami akhirnya saling menyapa, apakah aku benar-benar ingin melewatkan kesempatan ini?

Tidak.

“Oh ya! Aku Erlang, by the way

Akhirnya aku mengulurkan tanganku. Tidak teralu berharap ia membalasanya, apalagi setelah semua hal yang aku lakukan. Bisa jadi ia menganggapku psyco karena sudah mengamatinya tanpa ijin. Setiap pagi.

“Aku Ken, kita naik kereta yang salah by the way

Ia bukan hanya menyambut tanganku, juga memberikan sebuah senyuman kecil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s