Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?

Gambar diambil di sini

Bagi yang mengkuti account @ikanatassa, mungkin mengetahui hal hangat yang ia perbincangkan dua hari terakhir, selain listrik di kota Medan yang hidup-mati seenak jidat pejabat PLN. Ini tentang beberapa bagian dari Antologi Rasa karya @ikanatassa yang ditulis ulang oleh salah seorang penulis FF di portal Sang penulis FF  menyalin ulang beberapa scene, mengganti nama tokoh dan menambah, mengurangi dan mengubah beberapa kata di Antologi Rasa dan mempublikasikan sebagai karya miliknya. Setelah melihat screen capture yang membandingkan versi Antologi Rasa dan FF, bagi saya, FF tersebut terlalu persis untuk disebut terinspirasi.

Ironisnya aksi plagiarisme ini terungkap satu hari setelah @ikanatassa berkisah tentang bagaimana ia berhasil merampungkan Antologi Rasa. Ini bukan aksi membuat candi dalam satu malam dengan bantuan jin. Ada survey lapangan, ada survey literatur yang semua biayanya ditanggung sendiri. Dan yang tidak kalah penting ada ide, kretivitas juga waktu yang sengaja ia sediakan, ini jelas tidak serta-merta dapat dinilai dengan uang.

Saya ini penulis amatir. Sedang belajar dan siap bertarung dengan siapapun yang mengatakan menulis itu mudah. Menulis buruk mungkin mudah namun saya tidak akan bangga menyebut diri saya sendiri penulis dengan tulisan yang sejak kalimat pertama membuat pembaca sudah ingin memuseumkan tulisan saya.

Bagi saya menulis adalah sebuah perjalanan panjang. Menulis melawan arogansi pribadi karena penulis adalah Tuhan bagi karakter-karakternya. Menulis adalah berfikir, bernalar karena untuk sebuah fiksi tetap tidak megijinkan penulis untuk menjadi pembual. Menulis adalah mengungkapkan, dan untuk setiap kata yang diungkapkan tidak pernah bisa ditarik kembali, penulis bertanggung jawab atas penulisannya. Menulis adalah menceritakan ulang dalam bentuk deretan huruf, ada rules yang harus dipatuhi, sehingga tulisan tersebut kemudian tidak sumpah-serapah.

Melalui accountnya, @deelestari juga pernah menyebutkan pendapatnya tentang menulis itu sendiri. @deelestari pun meyakini bahwa menulis melalui tahapan-tahapan (sumpah lupa bagaimana dee menjelaskan tahapan tersebut, tapi intinya adalah seperti yang saya jelaskan setelah ini). Bagi penulis pemula, anak tangga pertama tentu saja tulisannya diterbitkan secara masive. Bagi penulis lanjutan diterbitkan saja tentu tidak cukup, mereka harus menciptakan tulisan yang lebih baik dengan tekhnik kepenulisan yang lebih matang.

Maksudnya begini, ketika pertama kali saya menekuni passion saya dalam tulis-menulis. Saya memegang teguh pendapat yang mengatakan menulis itu mudah. Pernahkah kalin membaca/mendengar:

“kalau tweet kalian dalam satu tahun dikumpulkan dalam satu dokumen, diganti dengan font TNR 12, spasi ganda, jumlahnya mungkin cukup untuk memenuhi standard halaman sebuah novel”

Ya! Saya sepaham dengan pendapat ini (ketika itu). Namun setelah beberapa karya saya menjadi satu dari bagian antologi yang naik cetak, saya mulai merasa malu. Tulisan saya terlalu mentah, dan saya berterima kasih kepada para editor yang berlapang dada mengarbit tulisan mentah tersebut hingga layak baca. Atau ketika saya membaca ulang tulisan lama saya yang gagal saya kirimkan ke lomba menulis, saya bersyukur tulisan tersebut tidak pernah saya kirim. Beberapa diantaranya terlalu absurd untuk disebuat sebuah tulisan. Merusak mata ketika dibaca bahkan sanggup membuat perut mual.

Tapi itulah yang saya sebut proses.

Dalam menulis ada satu tekhnik yang kerap diulang oleh para penulis, Do not tell but explain it. Jangan katakan, jelaskan.

Conttohnya untuk menyampaikan kesedihan kepada pembaca jangan tulis ‘saya menangis’, tapi jelaskan. Bagi saya tekhnik ini bukan satu hal yang mudah. Menyebutkan si A menangis jauh lebih mudah dari pada harus menjelaskan bagaimana perubahan suaranya, gestur tubuhnya , perubahan air muka yang membuat pembaca mengetahui A sedang bersedih.

Mendeskripsikan tempat, apalagi tempat yang belum pernah saya kunjungi. Ini pun menjadi bagian yang sulit bagi saya. Jangan sampai saya bercerita tentang Belanda namun rasanya sangat Bandung. Dalam menjelaskan, penulis dituntut untuk mempunyai state of mind yang luas. State of mind atau kerangka berfikir, tidak akan diperoleh secara instant. Ia bergantung kepada keterbukaan dan pendalaman penulis terhadap berbagai informasi, pengalaman hidup penulis, kejelian penulis mengamati sekitar.

Dalam kasus @ikanatassa, ia menyebutkan bahwa ia harus menonton langung siaran (F1 atau Moto Gp ya?) untuk menyajikan sebuah scene di Antologi Rasa. Ia menggembangkan state of mind untuk membuat scene tersebut tidak terasa karapan sapi.

Oh ya! Istilah dan pengetahuan state of mind ini saya dapatkan dari Pak Edi dalam workshop Kampus Fiksi Reguler angkatan 8. Kalian tau? Untuk bisa mengikuti kampus fiksi reguler tersebut saya harus mengirimkan sebuah cerpen untuk proses seleksi. Kemudian menunggu sekitar enam bulan untuk sampai dihari H pelaksanaan workhsop kepenulisan tersebut.

Beranjak dari jatuh-bangun, kirim-tolak, tulis-buang tersebutlah saya memahami betul bahwa menulis itu tidak mudah. Dan ketika tulisan itu pada akhirnya lahir kemudian dicuri oleh seseorang, ibu mana yang tidak akan naik pitam. Mlehirkan itu (kata yang udah pernah) sakiiit sist

Oh ya! Sebagai penutup saya akan membuat pengakuan. Saat ini saya masih rajin membeli dan nonton DVD bajakan dan saya berusaha sangat keras untuk tidak membeli DVD bajakan untuk film-film dalam negeri. Saya juga masih menggunakan aplikasi bajakan. Untungnya saya bukan pencinta belanja sehingga saya terhindar dari barang KW-KW an. Kalau pun tanpa sengaja terbeli, itu semata-mata karena saya tidak pernah mengetahui bahwa fashion item yang saya beli ternyata ‘terinspirasi’ brand ternama.

Ah! Ternyata saya masih pencuri. Hikss

Advertisements

One thought on “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s