[Review] Sabtu Bersama Bapak

Penulis : Aditya Mulya

Penerbit : Gagas Media

 

Awalnya saya pikir saya akan menemukan seorang Bapak yang mati-matian menyediakan hari sabtu untuk anak-anaknya, setelah sepanjang Senin – Jumat menyerahkan diri kepada pekerjaan. Ternyata tidak.

Sabtu Bersama Bapak berkisah tentang Bapak yang menyiapkan video-video khusus untuk kedua anak laki-lakinya. Bapak melakukan hal tersebut karena usianya yang menurut dokter tidak lagi panjang dan karena ada tugas Bapak yang tidak bisa digantikan oleh Ibu. Bapak ingin memastikan kedua anak laki-lakinya mempelajari hal-hal yang memang harus diajarkan oleh seorang Bapak. Bapak ingin memastikan bahwa ia tetap ‘hadir’ dalam kehidupan kedua anak lelakinya.

Video-video Bapak, disaksikan oleh anak-anak Bapak, Saka dan Satya setiap sabtu sore. Ini menjelaskan mengapa buku ini berjudul Sabtu Bersama Bapak.

Beranjak dewasa, Saka dan Satya dihadapkan kepada permasalah hidup masing-masing.

Bagi satya mendapatkan seorang istri bukan satu hal yang sulit. Ia mempunyai nilai diatas rata-rata untuk kriteria-kriteria yang biasa ditetapkan seorang perempuan ketika memilih suami (juga kriteria menantu oleh para mertua). Namun, ketika pernikahannya menginjak usia 8 tahun, Satya dibenturkan dengan deretan pertanyaan menyangkut kredibilitasnya sebagai seorang Bapak? Sudahkah ia menjadi seorang Bapak, untuk ketiga anak laki-lakinya? Sudahkan ia menjadi seorang suami yang baik? Mengapa harus ada email dengan subject Kamu Mending Nggak Usah Pulang deh! dari Rissa, istrinya?

“Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk mendapatkan kerja lain– Anak? Ketika mereka mendapatkan orang tua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya (Satya)”

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung — kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orang tua — kepada semua anak (Bapak)”

Dengan mengucapkan Ijab-Qabul atau janji suci pernikahan, seorang pria baru saja menjadi seorang suami. Namun, menjadi seorang Bapak tidak pernah selesai hanya dengan menjadi mayat, apalagi hanya karena sebuah perceraian. (Ini kata gue pas udah baca setengah bagian Sabtu Bersama Bapak, nggak ada dibuku :P).

Jika kisah hidup Satya berkisah tentang bagaimana seorang Bapak harusnya bersikap, maka kisah hidup Saka menjadi panduan bagaimana seorang laki-laki mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang suami dan Bapak yang baik.

“Membangun sebuah hubungan tersebut membutuhkan dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Yang bukan saling mengisi kelemahan (Bapak)”

“Nah Misalnya, saya nggak kuat agamanya. Lantas saya cari pacar yang kuat agamanya. Pernikahan kami akan habis waktunya dengan membuat si kuat melengkapi yang lemah. Padahal setiap orang sebenarnya wajib menguatkan agama. Terlepas dari siapapun jodohnya (Saka)”

Semua hal yang diterapkan Satya dan Saka dalam kehidupannya tentu saja berkat ‘kehadiran’ Sang Bapak. Bisa dibilang Sabtu Bersama Bapak ini sebagai guidelines awal untuk menjadi seorang Bapak yang baik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s