Menulis Untuk Hidup?

Sebagai seorang penulis pemula, saya kerap dibuat takjub dengan sesama penulis baru. Saya berdecak kagum ketika menemukan beberapa nama yang saya kenal berada dibagian kover novel yang saya temukan di rak-rak toko buku. Saya terkesima ketika membaca koran minggu dan menemukan nama-nama yang saya kenal di kolom cerpen. Sungguh saya takjub dengan komitmen mereka untuk tetap bisa menghasilkan tulisan. Sungguh saya iri dengan kesanggupan mereka menghasilkan sebuah karya bermutu. Karena bagi saya kedua hal ini masih menjadi satu hal yang sulit.

Tentang menulis, beberapa bulan yang lalu ketika menghadiri kampus fiksi angkatan 8 yang diadakan oleh Divapress, Pak Edi, menyampaikan satu hal yang saya amini sejak lama,

Apakah dengan menjadi penulis kalian akan kaya? Jika masih pemula jawabannya adalah tidak. Makanya saya rekomendasikan untuk penulis pemula untuk mempunyai pekerjaan lain.

Sejujurnya saya tidak ingat pernyataan tepat Pak Edi kala itu, namun apa yang saya tuliskan diatas tidak mengubah esensi yang berusaha beliau sampaikan.

Ya! Menjadi penulis memang membuat seseorang terancam keren -meminjam tagline kampus fiksi -. Namun menjadikan menulis sebagai tempat meggantungkan hidup, bagi saya pribadi ini bukan pilihan yang ingin saya lalui ketika masih menjaid penulis pemula.

Maksud saya, Fee menulis 500k hingga 1000k per cerpen jelas merupakan nominal yang lumayan namun ketika nominal ini dijadikan sebagai primary income , bagi saya ini bukan sebuah keputusan yang bijak. Apalagi ketika ini menjadi pendapatan utama untuk menghidupi sebuah keluarga. Silahkan kalkulasi biaya makan untuk tiga orang -misal sepasna orangtua dengan satu anak- selama satu bulan, ditambah dengan cicilan tempat tinggal, kebutuhan sekolah anak, kemudian bandingkan dengan berapa cepen yang harus dimuat di surat kabar agar kebutuhan bulanan tersebut terpenuhi?

Ya! Bagi sebagian orang hidup tidak melulu tentang perhitungan materi. Tentang pasak dan tiang. Tentu ada Tuhan yang akan selalu membantu umatnya, namun ingat, bukankah Tuhan menciptkan kita dengan akal? Agar kita berfikir.

Itulah mengapa saya sangat sepedapat dengan Pak Edi. Jauh hari sebelum saya bertemu dengan Pak Edi, saya sudah melakukan hitungan kasar berapa jumlah buku Рjika akhirnya berhasil terbit- yang harus terjual jika saya ingin mendapatkan royalti yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan saya. Ketika hitungan eksemplar yang harus terjual tersebut muncul, saya meyakini bahwa sebagai pemula, saya membutuhkan penghasilan lain yang lebih pasti. Fee dari acara tulis-menulis adalah pasive income membiayai hobi saya jalan-jalan.

Beda cerita jika seseorang sudah menjadi penulis yang kawakan. Mereka sudah mempunyai fans yang tanpa banyak pertimbangan akan membeli novel sang idola tersebut. Namun untuk menjadi seorang penulis yang diakui tentu saja tidak melalui proses instan. Butuh waktu juga karya yang mumpuni.

Mengapa saya menulis tentang ini? Karena tadi siang saya berincang dengan seorang kenalan yang suaminya berkerja sebagia penulis. Saya tidak bertanya penghasilan suaminya, hanya saja dari pembicaraannya saya menangkap bahwa ini juga bukan nominal yang wah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s