[Review] Metropolis

Repost dari Goodreads saya.


 

Meski sering mendengar nama Windry Rahmadhina, ini kali pertama saya membaca bukunya. Itu pun setelah buku ini secara tidak sengaja berpapasan dengan sepasang tangan jahil saya di toko buku.

Bercerita tentang Agusta Bram seorang polisi yang ingin mengungkap pembunuhan berencana atas 8 dari 12 sindikat mafia narkotika di Jakarta. Bram dituntun untuk bergerak cepat karena satu per satu dari 4 bos mafia yang tersisa juga dihabisi. Pelakunya tidak lain adalah Johan Al, putra Frans Al yang dahulunya penguasa tunggal perdagangan Narkotika di Jakarta sebelum dihabisi oleh 12 konspirator yang akhirnya membagi wilayah kekuasaan Frans menjadi 12 bagian.

Dalam pencariannya, Bram dipertemukan dengan Mia, seorang mantan anggota kepolisian mengetahui banyak hal tentang pembunuhan berantai sindikat 12 dan juga berusaha menemukan pelaku utama pembunuhan tersebut. Pada satu titik, mia mengungguli Bram. Mia terlebih dahulu mengetahui Johan Al adalah otak dibalik pembunuhan berantai namun kondisi membuat Mia justru berbalik berada dipihak Johan. Bahkan Mia tanpa sengaja membantu Johan menyelesaikan misinya menghabisiki ke-12 orang yang dulu telah membunuh ayah dan keluarganya.

Namun, diluar dugaan ternyata satu orang bos mafia anggota sindikat 12 yang sebelumnya sudah dinyatakan meninggal, masih hidup. Selama ini dia -bos mafia yang masih hidup- menggunakan orang lain sebagai boneka, berpura-pura menjadi dirinya agar jati dirinya yang sebenarnya tidak terungkap. Dan dia menginginkan kematian Johan setelah semua kekacauan yang disebabkannya dan terlebih karena dia tau Johan tidak akan mengejarnya jika mengetahui bahwa dia masih hidup.

Harus saya akui penulis menciptakan karakter-karakter yang kuat. Dan ditempatkan secara tepat pada masing-masing penggalan kisah. Saya menyukai Johan (saya memang kerap suka dengan tokoh antagonis). Karakter dengan penampilan ‘malaikat’ namun sebenarnya adalah dalang dari sebuah kejahatan. Saya juga suka akhirnya ada percikan emosional antara Johan dan Mia. Karena ini menujukan sisi manusia Johan (meski antagonis, seorang tokoh tidak harus dibuat keji pada setiap paragraf bukan?). Kejahatan yang dilakukannya murni balas dendam diluar itu dia terlihat manusiawi, bahkan jantuh cinta. Saya juga suka karena romansa diantara keduanya tidak banyak dibahas, sehingga buku ini terlihat sangat konsisten dengan temanya. Spionase.

Sedikit yang mengganggu saya adalah pada bagian kematian salah seorang bos mafia, Ambon Hepi. Hepi dibunuh dengan menggunakan garpu yang kebetulan berada di dalam ruangannya. Si pembunuh datang dengan berpura-pura ingin melakukan transaksi dengan nominal besar. Standard prosedur bertemu bos mafia (yang saya lihat di film-film dan juga diterapkan dibuku ini), si tamu digeledah untuk memastikan tidak membawa benda tajam. Si pembunuh beruntung ada garpu di dalam ruangan tersebut sehingga bisa digunakan sebagai alat pembunuhan. Namun penulis tidak menjelaskan, bagaimana rencana awal si pembunuh untuk menghabisi Ambon Hepi. Menurut saya, mengingat ini adalah pembunuhan terencana, harusnya ada penjelasan bagaimana rencana awal si pembunuh untuk menghabisi Ambon Hepi mengingat akan selalu ada kemungkinan dia tidak menemukan garpu di ruangan kerja Ambon Hepi. Sampai bagian akhir cerita saya belum menemukan penjelasan ini.

Pada beberap bagian, saya dibuat kagum karena penulis berhasil memberikan kejutan-kejutan. Namun beberapa bagian juga tidak terlalu mengejutkan karena bisa digunakan dalam cerita-cerita setipe. Membuat akhir dari sebuah cerita spionase pun adalah bagian yang sulit (menurut saya)apalagi cerita seperti ini tidak memberikan banyak pilihan ending. Penjahat harus mati, atau ditahan polisi. Sehingga akhir cerita tidak terllau membuat shok meski sepanjang cerita pembaca dibuat tegang dan penasaran.

Ah akhirnya saya tau mengapa Bara memfavoritkan si penulis (Windry Rahmadhina). Siapa Bara? Nanti saya kasih tau.. hahahaha

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s