[CERPEN] VEGETARIAN

Tulisan ini disertakan dalam tantangan menulis #deskripsibakso oleh @kampusfiksi.

 


Aku sedang memotong daging sapi yang di-grilled dengan tingkat kematangan sempurna menjadi potongan-potongan kecil ketika ia masih berkutat dengan daftar menu di tangannya.

Kafe ini ia pilih bukan karena jenis makanan yang ditawarkan melainkan karena lokasinya berada dalam lingkup masuk akal dijangkau dari kantor kami masing-masing. D iluar sana ratusan kendaraan berderet-deret menyesaki jalan arteri, nyaris tidak bergerak. Inilah ibukota, negeri berkalang beton yang langsung lumpuh ketika hujan turun.

“Ckckck susah amat ya mau jadi malaikat.” serunya setelah seorang pelayan meninggalkan meja dengan catatan pesanan miliknya. Satu porsi smash potato with mayo dan satu green tea smoothie.

Ia mulai mengambil potongan sayur dari piringku. Seperti biasa, ia akan menelan makanan di dalam mulutnya setelah kunyahan keduapuluh-tiga. Ia sendiri mungkin tidak menyadari pola yang diterjemahkan oleh otak sebagai kebiasaan tersebut. Sama seperti ia tidak pernah menyadari bahwa aku tidak pernah mengatakan ‘tidak’ untuk setiap ajakan ‘meet up yuk’ darinya.

Oh ya! Kembali kepada pernyataannya tadi, harusnya aku menjelaskan bahwa ia mengangkat kedua tangannya dan membuat tanda petik di udara ketika mengatakan ‘malaikat’. Ia memang tidak ingin menjadi malaikat, ia hanya ingin menjadi seorang vegetarian.

“Lo harus mulai mengurangi makan daging, terutama daging merah.”

Aku mendelik ke arahnya, tanpa alasan yang pasti pisau di tanganku tergelincir sehingga membuat saos kecoklatan dengan taburan lada hitam di piringku berloncatan. Beberapa mengenai kemeja biru langit milikku.

Ia dengan sigap mengulurkan tissue. “Semua emosi, takut, cemas, dan sedih yang dilami ketika hewan disembelih akan tersimpan dalam tiap potongan daging yang kalian konsumsi. Itulah mengapa seorang karnivora mempunyai kecenderungan untuk menjadi lebih emosional,” lanjutnya kemudian.

Kalian. Ia mulai mengotak-ngotakan manusia berdasarkan apa yang mereka konsumsi. Dan penjelasan barusan, aku tidak mengetahui dari mana ia mendapatkannya. Dari sebuah jurnal ilmiahkah? Artikel kesehatan? Atau dari Randy?

Aku melempar tissue kotor ke permukaan meja yang kosong, kemudian mendorong piring di hadapanku menjauh. Ah! Mengingat nama Randy saja mendadak aku kehilangan nafsu makan. Sesuatu yang disalahartikan olehnya sebagai persetujuan. Ia tersenyum kecil sembari mengangkat dua jempolnya ke udara.

Aku meraih iced lemon tea milikku. Ternyata minuman dingin tidak mampu mendinginkan hati yang sudah terlanjut panas. Apalagi ketika ponselnya berdering dan ia memulai percakapan nirkabel tersebut dengan sapaan ‘sayang’.

Aku melirik jam ditanganku, pukul 19.15 WIB. Mungkin ini adalah semacam panggilan ‘sudah makan belum’. 

Katanya cinta mampu melenyapkan rasa lapar, maka berlaku hal sebaliknya. Cemburu membuat seseorang mudah lapar. Kembali kuraih piring berisi potongan daging yang tadi sempat aku abaikan. Aku menusuk dua hingga tiga potongan sekaligus.

Ia mengangkat tanganya, bertanya ‘mengapa?’

Aku tidak menjawab. Biarkan saja, seandainya makan malam kali ini berakhir dengan sebuah pertengkaran, aku punya kesempatan untuk mempersalahkan sapi di dalam perutku. Ia sedang marah ketika pisau tukang jagal memutus nadi di lehernya.

***

Pernah aku mendengar dari salah seorang politikus, bahwa rakyat yang lapar tidak akan bisa berfikir jernih. Mungkin ini ada benarnya. Resto ini lahir dari dua anak manusia yang kekenyangan ketika menunggu jalanan ibukota menjadi lebih bersahabat.

“Daripada lo ngeluh tiap kali ke tempat makan, semua makanannya nggak bisa lo makan, lebih baik lo bikin tempat makan dimana yang semua menunya bisa lo abisin”

Ia baru saja mengulang ideku dalam pidato sambutan soft opening resto Vegie miliknya. Dalam sejarah panjang resto ini (jika kelak usianya panjang) aku hanya memberikan sebuah ide, sementara sisanya adalah jasa Randy.

Aku ingat coretannya di kertas malam itu. Ia menggambarkan sebuah resto dengan konsep rumahan. Meja dan kursi-kursi berbahan kayu, pelayan dengan pakaian tradisional dan nama menu makanan yang tidak kebarat-baratan.

“Yang pasti, resto gue nanti nggak akan menyediakan wi-fi gratis. Ini adalah tempat di mana orang datang untuk makan sambil mengobrol bukan sibuk dengan gadget masing-masing.” Jelasnya berapi-api ketika itu.

Itulah mengapa aku ragu ketika menemukan sebuah resto di jantung ibukota dengan warna cat di dominasi warna pastel, dan sebuah logo wi-fi di pintu masuk. Tidak ada furniture kau, semuanya berbahan poly ester.

“Karena vegetarian lebih lekat dengan gaya hidup masa kini,” jawabnya ketika aku mengkonfimasikan hal tersebut, ” begitu menurut Randy.” lanjutnya.

Aku mengangguk-angguk kecil. Lagi-lagi Randy.

“Eh, bagaimana penampilan gue?” tanyanya, ia berdiri dihadapanku dengan hmm sedikit kaku.

Aku baru saja hendak memuji, seharusnya dia sesekali tampil seperti ini, mengenakan dress motif floral selutut dengan rambut digelung rapi dan riasan tipis pada wajahnya. Namun demi mendengar lanjutan pernyataannya, aku menelan kembali semua pujianku.

“Gue takut kelihatan konyol di depan kenalan-kenalan Randy”

Aku menghembuskan napas berat. Menatap keramaian di sekelilingku. Di depan meja makanan utama berdiri sekelompok anak muda yang tak lain adalah kolega bisnis randy, tak jauh dari sana satu kelompok lintas usia adalah kerabat Randy, dan masih banyak kelompok-kelompok lainnya yang tidak lain adalah teman kuliah randy, teman main golf Randy dan banyak jenis pertemanan lainnya. Aku mulai yakin bahwa satu-satunya undangan yang datang karena mempunyai hubungan dengan dia adalah aku.

“Apa sekarang semuanya, selalu tentang Randy?” tanyaku dalam hati.

“Apa maksud lo?”

Ketika nada suaranya mendadak meninggi, barulah aku sadar bahku aku tidak hanya bergumam dalam hati.

“Ngg, lo sedikit berubah belakangan ini”

“Maksud lo Randy mempengaruhi gue?” matanya membulat, kedua tangannya ia lipat di dada.

Aku menarik napas pendek, “lihat! Aku hanya mengatakan kamu berubah tanpa menjelaskan kamu lebih baik atau lebih buruk. Dan kamu merasa tersinggung.”

Dia diam. Lebih tepatnya aku baru saja membungkamnya. Dia mengetahui kali ini aku benar. Beberapa kali mulutnya terbuka, mungkin ingin memberikan sanggahan. Namun akhirnya ia hanya mengatupkan mulutnya rapat.

“Sayang, aku kenalkan kamu dengan salah seorang teman Papa. Dia sitributor sayuran organik”

Randy sempat melemparkan sebuah senyuman sebelum mengamit lengannya. Untuk pertama kalinya, aku melihat langkahnya gontai. Baru beberapa langkah, ia melepaskan tangannya dari Randy, melangkah cepat ke arahku.

“Lo… lo nggak berhak menilai apapun tentang gue”

Dan sekarang ia menjadi lebih cepat tersinggung setelah setengah tahun menjadi vegetarian satu hal yang tidak pernah dilakukannya selama menjadi pemakan segala.


 

Jumlah kata Lalu = 0 , kemudian =0 , lantas =0, terus = 0

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s