Tidak Ada Yang Benar-Benar Sendiri

Saya pernah berkata, saya sendiri lupa apakah saya benar-benar mengatkannya kepada seseorang atau hanya sekedar meracau di account media sosial.

Hal tersulit dari sebuah perjalanan itu, bukan menentukan tujuan melainkan menemukan teman perjalanan yang tepat.

Saya tidak punya kelompok khusus untuk jalan-jalan meski terkadang orangnya adalah itu lagi-itu lagi. Saya biasa ke pantai dengan B karena A lebih menyukai gunung. Saya berangkat dengan C untuk low budget travelling, karena D lebih suka perjalanan yang sedikit lebih nyaman.

Belum lagi ketika perjalanan digabungkan dengan misi-misi lainnya, misal memadukan perjalanan dengan kegiatan menulis, perjalanan dengan misi sosial, perjalanan dengan foto hunting, maka akan lebih banyak pertimbangan menentukan siapa yang akan bergabung dalam perjalanan tersebut.

Pernah suatu kali saya mengajak seorang teman, ke acara  travelling yang juga menyisipkan travel writing workshop. Meski teman saya mengetahui dengan itenary awal yang menyebutkan ada workshop kepenulisan, ia memutuskan untuk tetap ikut karena lokasi yang dikunjungi menarik. Ketika workshop berlangsung, -meski ia bisa memilih untuk tidak ikut dan melakukan kegiatan pribadi- entah mengapa teman saya tersebut memutuskan untuk tetap duduk disamping saya. Ia tidak banyak berkomentar namun dari duduknya yang gelisah, ia jelas tidak nyamandengan acara yang sedang berlangsung. Saya pun merasa tidak enak. Dan hal ini juga memecah konsentrasi saya dalam mendengarkan materi workshop.

Semakin banyak yang memberikan penolakan – entah karena jadwal atau tujuan yang kurang pas, ada juga yang beralasan karena sudah menikah- ketika saya mengajukan ide mengunjungi suatu tempat, saya mulai berfikir.

Suatu saat, waktu dan kesempatan, akan memaksa saya untuk  menyelesaikan travel list saya sendirian.

Memikirkannya saja saya mulai merasa khawatir. Saya Si Ahli Nyasar ini, travelling sendirian? Bagaimana kalau saya tersesat? Bagaima kalau kehabisan uang? Bagaimana kalau perjalanannya nggak sesuai itenary awal? Bagaimana….bagaimana….bagaimana….

Saya rasa, saya hanya butuh kesempatan untuk membuktikan apa yang sebenarnya membuat saya khawatir dengan ide solo travelling ini.

Kesempatan itu datang pada akhir Mei lalu. Saya mengikuti workshop kepenulisan selama dua hari di Jogjakarta dan punya dua hari bebas tugas dari kantor setelahnya. Saya memilih Semarang sebagai kota tujuan solo travelling kali ini.

Saya yang awalnya berencana menempuh perjalanan seorang diri dari Jogja menuju Semarang justru dipertemukan dengan tiga orang yang berasal dan/atau tinggal di Semarang. Bahkan dua orang diantaranya menjadi teman perjalanan Jogjakarta – Semarang. Meski saya tidak banyak terlibat dalam perbincangan mereka.

Lucu rasanya, ketika saya berfikir bahwa perjalanan ini akan saya jalani seorang diri, Tuhan justru mengirimkan beberapa orang teman sekaligus. Saya bahkan salah menumpang ‘taksi’ setelah kami berpisah namun tidak ada rasa khawatir berlebihan yang mencuat . Bahkan ketika hostel yang saya booking dari salah satu situs pemesanan hotel tidak ditemukan. Ada semacam bisikan ‘semuanya akan baik-baik saja’ langsung ke kepala saya.

Saya punya prestasi mencengangkan dalam urusan nyasar. Rute busway yang setiap hari yang lewati pun, saya kerap turun di halte yang salah. Bahkan, untuk menentukan belok kanan dan kiri sekalipun, saya harus mengangkat kedua tangan saya terlebih dahulu, dengan begitu saya bisa menunjukan arah dengan tepat.

Dengan semua kemampuan yang ‘luar biasa’ tersebut, jangan harap membaca peta kota menjadi satu hal yang mudah bagi saya. Dua kali saya harus kembali ke sebuah perempatan tak jauh dari Kota Lama Semarang karena saya salah membaca peta di ponsel saya. Sampai-sampai selah seorang Penarik Becak berseloroh ,” sudah ketemu, Mbak? Jalannya?”. Saya hanya tersenyum,tidak sadar ada yang memperhatikan pejalan kaki bingung ini, kemudian mengangguk yakin.

Setelah mengangguk yakin, apakah saya menembuh jalan yang benar menuju China Town Semarang? Tidak! Saya nyasar lagi. 😀 Kaki saya rasanya mulai lelah tapi hati saya justru tertawa kecil. Saya belum pernah merasakan tersesat setenang ini.

Saya memutuskan bertanya kepada beberapa orang. Orang pertama adalah seorang ibu paruh baya yang menjawab pertanyaan saya dalam bahasa jawa, saya tidak mengerti tentu saja. Orang kedua, saya pilih seseorang yang lebih muda. Ia tidak mengetahui lokasi pasti tempat yang saya tuju, namun ia berbaik hati memberikan sebuah patokan arah.

Tuhan selalu bersama seseorang yang berusaha. Begitu saja, saya berhasil mengunjungi beberapa tempat di Semarang yang masuk ke dalam list perjalanan saya.

” No one really travels alone.”

Begitu kata Windy Ariestanty, dan saya yakin itu benar.

Ketika saya berfikir perjalanan menuju dan selama di Semarang merupakan solo travelling saya yang pertama, saya justru menyadari bahwa saya tidak benar-benar sendiri. Ada dua orang peserta workshop yang menjadi teman perjalanan Jogja – Semarang, ada supir taksi gelap yang menjadi teman bicara dalam perjalan menuju hostel. Petugas hostel yang menyapa saya selama saya menginap. Warga lokal yang beberapa kali saya tanyai arah. Anak-anak yang meminta difoto ketika saya mengitari Kota Lama. Juga bapak penarik becak yang mengantarkan saya ke stasiun. Mereka adalah orang-orang yang hadir untuk mematahkan kesendirian dalam perjalanan saya kali ini.

Tidak ada orang yang benar-benar sendiri. Bahkan dalam kesendirian sekalipun ada rasa takut yang membayangi. Bukan yang paling berani yang akhirnya berhasil melangkah jauh, namun seseorang yang berani berdamai dengan ketakutannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s