[Review] Leiden by Dea Tantyo

 

20140625_230031

Judul : Leiden

Penulis : Dea Tantyo Iskandar

Harga : Rp 50.000

 

Jika sedang menelusuri rak demi rak di toko buku, saya biasa melewati deretan buku dengan tema how to make you rich, how to persuade people dan how to be a good leader. Alasannya? Simpel. Kaya bukan tujuan akhir saya dalam hidup, saya tidak hidup untuk membuat orang percaya dengan perkataan saya dan saya tidak terlalu berminat menjadi pemimpin (dalam karir dan kelompok tertentu).

Lalu mengapa membeli Leiden, yang jelas-jelas Leadership Talk Series? Ini juga satu hal yang sederhana.

Teman yang baik, membeli (karya temannya) bukan minta gratisan. 😛

Ketika iseng membolak-balik halaman buku, setelah menerimanya dari petugas delivery, saya dipertemukan dengan halaman depan Chapter #9 Writer is Leader. Bagi saya yang beberapa bulan mulai giat menulis, kata-kata writer mempunyai magnet tersendiri. Cukup untuk memulai dan akhirnya menuntaskan buku ini.

Secara garis besar (menurut saya) buku ini dibagi menjadi tiga bagian besar.

Pada bagian-bagian awal Dea menuliskan bagaimana kepemimpinan tersebut berawal. Jabatan bisa diwariskan namun kepemimpinan berasal dari perkembangan mentalitas seseorang yang tidak bisa dibangun dalam sekejap. Butuh ratusan hari dan ribuan tantangan untuk menjadikan seseorang menjadi pemimpin.

Beberapa mental pemimpin yang sempat dibahas Dea dalam bukunya adalah tentang pemimpin yang MELAYANI, memiliki SENSE OF MORALITY, BERANI dan BERSAHAJA. Dea menjabar setiap mentalitas dengan merujuk kepada pempimpin-pemimpin besar di dunia. Mulai dari pemimpin yang terkemuka dari kalangan agama, pemerintah hingga pimpinan perusahaan-perusahaan multicompany.

Pada bagian selanjutnya, Dea menjelaskan tentang AKSI. Seorang pemimpin dengan mental paling baik sekalipun tidak akan pernah menjadi true leader ketika ia tidak beraksi bukan? Bisa dibilang bahwa aksi ditentukan oleh mentalitas seseorang. Ketika seseorang dengan mentalitas mudah menyerah, ia akan memilih mundur (aksi) ketika berhadapan dengan tantangan. Mentalitas seorang pemimpin akan menentukan bentuk aksi dari kepemimpinannya tersebut.

Seorang pemimpin tersebut harus BERBICARA. Bukan pembicaraan omong kosong melainkan sebuah kebenaran, tidak berkata apa yang tidak ia laksanakan. Pemimpin harus rela MENINGGALKAN KENYAMANAN dan BERJUANG untuk mewujudkan impian mereka. Pemimpin juga harus mempunyai VISI BESAR dan menjadi manusia yang BERNILAI karena ia adalah penunjuk jalan bagi pengikut-pengikutnya.

Pada bagian akhir, Dea memberikan percikan inspirasi melalui kisah para pemimpin dunia. Berasal dari berbagai kalangan, kelompok, usia dan jenis kelamin.

Bagi saya, membaca Leiden yang dituliskan Dea ini, seperti membaca rangkuman kisah keteladanan para pemimpin besar dunia. Dea bercerita tentang Rasulullah, Mahatman Gandhi, Moh. Nasir, Soekarno-Hatta, Agus Salim, Obama, Hugo Chavez, Marcus Tulius Cicero dan banyak deretan nama pemimpin lainnya yang sebagian asing di telinga saya. Jelas hal ini menjadikan Leiden sebagai paket hemat. Hemat waktu karena bisa mengetahui kisah kepemimpinan tanpa harus membaca biografi nama-nama yang saya sebutkan di atas satu per satu. Hemat biaya karena buku biografi tetap dibeli dengan uang 😛

Menjelaskan kepemimpinan melalui kisah para tokoh yang memang sudah terbukti kepemimpinannya, juga membuat buku ini jauh dari kesan menggurui. Terkadang (menurut saya) membaca buku yang terlalu sibuk mengungkap teori justru membuat sebuah buku tersebut membosankan.

Kepemimpinan tentang AKSI bukan? Bukan TEORI

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s