[Cerpen] Mendadak Kecoa

Aku berangkat tidur dengan piyama garis-garis vertikal berwarna biru dan bangun keesokan paginya dengan tubuh seekor kecoa. Hal paling mudah untuk menerima ketidaknyamanan adalah dengan menyangkal bahwa sesuatu itu nyata. Maka itulah yang aku lakukan sepanjang pagi ini, berfikir bahwa semua hal ganjil ini terjadi di dalam alam bawah sadarku. Aku masih bermimpi.

“Berhenti menggoyang-goyangkan antenamu!” teriak salah satu kecoa dengan tubuh paling besar.

Aku baru mengetahui bahwa Kecoa hidup berkoloni. Rasa-rasanya aku sangat jarang melihat kecoak muncul bersama-sama. Kebanyakan kecoa yang aku saksikan keberadaanya di dapur, muncul sendiri-sendiri. Sesekali menyerbu bersamaan, membuat ibu berteriak-teriak sambil mengarahkan obat serangga ke seluruh penjuru dapur.

“Keluar dari barisan!” teriaknya lagi.

Aku mulai kesal dengan kecoa besar ini. Aku berjanji kalau bangun, aku akan mencari kecoa ini dan membunuhnya. Bagaimana mungkin manusia diperintah oleh kecoa, meski dalam kasusku ini, aku juga seekor kecoa. Sebenarnya ini cukup sulit karena mereka terlihat sama ketika aku menggunakan mata manusia.

“Kenapa kau tidak ikut bergabung di dalam barisan?” tanyaku kepada seekor kecoa lain yang terlebih dahulu sudah berdiri diluar barisan. Tubuhnya lebih kecil dariku. Menurut perkiraanku, dia adalah kecoa ABG. Sejak tadi ia hanya berloncatan diluar barisan dan terus bertepuk tangan setiap kali kecoa besar memerintahkan sesuatu.

“Aku belum cukup umur. Kalau sudah, aku akan menjadi seperti dia” katanya menggerakan antenanya ke arah kecoa besar di depan sana.

Aku mengguk-angguk. Aku tidak yakin, kepalaku benar-benar bergerak ke atas dan ke bawah saat aku bilang aku mengangguk-angguk. Namun, aku yakin aku sedang mengguk. Dan antena ini, sungguh mulai mengganggu, karena terkadang ia bergerak-gerak sendiri.

“Umurmu berapa? mengapa kamu selalu salah mengikuti instruksi komandan?” tanyanya.

“Dua puluh lima tahun,”jawabku.

Aku yakin dia kaget, meski bola matanya tidak membesar. Satu lagi yang aku ketahui pagi ini, kecoa tidak punya kemampuan menyipit dan membesarkan bola mata. Bola mata itu bercokol disana, segitu-segitunya.

Dari Kecoa ABG ini, aku mengetahui hal penting lainnya bahwa kecoa hanya hidup dalam rentang waktu 6-8 tahun. Dengan kata lain, aku adalah kecoa tertua. Aku mulai berfikir mengambil alih jabatan Si Kecoa Besar.

Aku mulai bercerita kepada kecoa ABG ini, tentang siapa aku sebelum pagi ini. Aku siap menerima penolakan darinya. Aku tidak peduli ia menganggapku pembohong, toh ketika kau bangun, kecoa ABG ini bukan apa-apa.

“Apa yang dilakukan manusia usia 25 tahun?” tanyanya, sepertinya ia berusaha menetapkan strata tentang siapa yang lebih tua diantara kami berdua.

“Hmm mencari makan sendiri…”

“Hahahha aku langsung bisa mencari makan setelah berhasil menetas. Berarti kau bayi. Hahahha”

Ralat. Setelah bangun, aku juga akan mencari kecoa ABG ini. Berani sekali dia mengataiku bayi.

“Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Dan dimana kita?”tanyaku. Meski tidak bermaksud mengalihkan pembicaraan, pertanyaanku kembali mampu menarik perhatian Si Kecoa ABG.

“Ini markas besar. Dan mereka sedang menunggu instruksi” sahutnya, kembali melonjak-lonjak. Sepertinya ia selalu tertarik membahas kelompok kecoa yang sedang melakukan baris-berbaris ini. “Misi rahasia,” bisiknya.

“Misi rahasia?”

“Ya! Oo jangan bilang kamu juga tidak mengetahui fungsi kecoa yang sebenarnya?”

Aku harus menggeleng. Yang aku tau, kecoa adalah makhluk yang harus dikeplak dengan sendal ketika tiba-tiba muncul dari bawah lemari. Warna coklatnya, antenanya, dan kaki-kakinya yang tajam sungguh menjijikan. Dan setelah ini, aku akan semakin jijik kepada makhluk satu ini, mereka (termasuk aku yang sekarang adalah kecoa) buang angin setiap 15 menit. Huek!!

“Kami adalah agen rahasia yang punya jaringan di seluruh dunia” lagi-lagi ia berbisik. Seolah informasi yang ia sampaikan terkategori rahasia tingkat tinggi.

Kali ini giliran aku yang tertawa. Harus aku akui dia cukup pintar untuk mengarang cerita.

“Apa yang salah. Kecoa punya kesempatan untuk keluar masuk setiap tempat. Tubuh kami kecil sehingga bisa bersembunyi ditempat-tempat sempit. Dan jika ingin, kami bisa terbang. Tapi terbang sangat menyakitkan. Tubuh kami menjadi sangat panas dan kami bisa kehilangan tenaga dalam waktu singkat”

Ia masih sibuk berkisah tentang koloninya sementara aku terus tertawa. Ini sungguh menggelikan. Aku membayangkan kecoa yang aku bunuh semalam sebelum tidur, terbunuh dalam menjalankan misi.

“Kami juga bisa hidup 9 hari tanpa kepala”

Aku tau ini, aku sempat menyaksikan beberapa serangga tanpa kepala ketika masih berada di dalam barisan tadi.

“Kau hanya perlu berjaga-jaga agar tidak ditendang manusia dan dibiarkan dalam posisi telentang. Karena itu artinya mati.”

Aku tau ini sejak lama, karena aku beberapa kali melihat kecoa yang hanya mampu menggoyang-goyangkan kakinya ke udara, jika posisi tubuhnya terbalik. Tak beberapa lama, kecoa tersebut akan mati. Mungkin karena ia kelelahan menggoyang-goyangkan kakinya.

“Lalu siapa yang membutuhkan informasi penting dari kalian?” potongku. Sungguh aku tidak tahan ingin mentertawakan orang gila yang menempatkan kehidupannya dengan mempercayai sekelompok makhluk yang hobi menyantap kotoran ini. Ngomomg-ngomong kotoran, aku belum sarapan sejak ‘bangun tidur’ tadi. Tidak dengan sarapan super menjijikan tersebut.

“Tunggulah sebentar lagi, ia akan muncul….disana” Si Kecoa ABG itu menunjuk ke sebuah dinding  yang lebar luar biasa. Jadi ini semacam layar yang biasa digunakan seorang agen untuk bertemu dengan kliennya di film-film spionase.

Beberapa menit kemudian, layar tersebut menyala. Seraut wajah yang sangat aku kenal muncul di layar.

“Pre….presiden amerika?”

Aku kembali tertawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s