[Cerpen] Empat Bulan

“Ini sulit.”

Puluhan kali ia mendekatkan stetoskopnya ke arahku, menghitung detak jantungku dan selalu diakhiri ‘ini sulit’.

Maksudku, jika ia kesulitan membuatku tetap bertahan hidup empat bulan kedepan, mengapa ia tidak menyerah dan berhenti mengalirkan zat-zat aneh ke dalam tubuhku.

“Lalu kami harus bagaimana, Dok?”

Aku dan Ibu hanya berjarak satu kepalan tangan. Sekuat apapun ibu berusaha keras menahan diri, aku tetap bisa merasakan getir dalam pertanyaannya. Dan  juga harapan.

Aku rasa, laki-laki berstetoskop itu menggeleng, itulah mengapa ibu tergugu.

Tuhan,  ibuku sudah mengunjungi semua dokter terbaik yang ia ketahui. Dan aku akan menjadi wakilnya untuk mengunjungimu. Kau tahu bukan? Ia seorang atheis.

Hanya empat bulan, Tuhan. Setelahnya engkau boleh mengambilku kembali jika aku memang tidak pernah ditakdirkan untuk hidup di bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s