Memory of Love

Gambar diambil di sini

Saya ingat ketika kecil bisa sangat ketakutan membaca serial Gosebump tentang hantu laba-laba di loteng rumah, tentang topeng yang mengutuk setiap pemakainya dan tentang penghuni kolong tempat tidur yang merayap ketika lampu kamar dimatikan.

Lalu ketika tahun lalu, saya tidak sengaja menemukan salah satu serial Gosebump di rumah dan membaca ulang, saya jusru mengernyitkan dahi. Ternyata ceritanya sungguh tidak menakutkan sama sekali. Saya tertawa geli membayangkan bagaimana dulu saya ketakutan ketika harus ke toilet sebelum tidur karena takut ada hantu di kamar mandi yang gelap.

Penasaran. Mungkin itulah alasan yang paling tepat untuk menjelaskan alasan mengapa saya memutuskan untuk menonton kembali (Ada Apa Dengan Cinta) AADC sore ini.

Film ini pertama kali di putar di bisokop dalam negeri pada tahun 2002. Pada tahun itu saya sedang kelas dua SMP. Jika di dunia perfilm AADC menandai kebangkitan perfilman indonesia, bagi kami remaja kala itu, AADC menjadi semacam kiblat romantisme masa sekolah.

Bertahun-tahun saya juga mengaminkan bahwa AADC menjadi film romantis (indonesia) pertama yang saya tonton. Hingga sore ini mendadak sebuah pertanyaan mencuat begitu saja (bisa jadi efek hujan) dalam benak saya,

Apa AADC akan tetap terasa romantis ketika saya tonton ulang di usia seperempat abad?

Bisa jadi hasil akhirnya adalah seperti Gosebump yang saya temukan tahun lalu di rumah.

Begitu saya sampai kepada bagian Rangga dan Cinta berciuman di bandara Soekarno-Hatta (sebenarnya sejak sountrack di awal film diperdengarkan) saya masih merasakan romantisme yang sama dengan masa-masa ketika saya menonton AADC pertama kali.

Mengapa efek yang muncul bertolak belakang dengan kasus Gosebump? Bukankah seharusnya AADC tidak lagi romantis, mengingat  gengsi-gengsian anatara Cinta dan Rangga sudah out of date (dari sisi saya)? Lalu mengapa saya masih berteriak ‘aaaaa’ ketika Rangga akhirnya mencium Cinta? Percampuran gemes, kesal, mupeng dan segala macamnya?

Saya bahkan pernah mengatakan (di sini) bahwa cinta tumbuh bersama manusia itu sendiri.

Lalu,bagaimana mungkin AADC menjadi anomali?

Sungguh saya tidak punya teori tentang ini. Sampai dengan tulisan ini dibuat, saya maish isbuk mendengarkan sountrack AADC, saya hanya bisa menyimpulkan satu hal

Manusia bertumbuh tapi kenangan tidak. Ia menjadi pasak yang akan mengarahkan bagaimana Manusia itu akan tumbuh.

Sekarang saya sudah tidak menganggap drama percintaan anak sekolah saebagai satu hal yang romantis dan seru. Bahkan saya berhenti membaca teenlit ketika usia masih belasan tahun (belasan tahun akhir sih).

Namun, apa yang otak saya simpan sebagai memori menentukan bagaimana saya akan tumbuh.

Pernah dengar bukan, anak-anak mungkin melupakan banyak kenangan ketika otak masih dalam perkembangan, namun memori yang tersimpan di alam bawah sadarnya, meski terlupakan akan menjadi faktor yang menentukan ia tumbuh menjadi seperti apa.

Seorang anak yang tumbuh dengan kemarahan akan belajar memaki, bukan?

Selamat Sabtu Malam, Cinta.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s