[CERPEN] Itulah Mengapa Tuhan Merahasiakan Kematian

Cerpen ini dikirimkan dalam rangka tantang weekend yang diadakan oleh @kampusfiksi. Inti tantangganya adalah membuat sebuat setting cerita sedih tanpa menggunakan kata sedih dan sinonimnya.

Sehari setelah, cerpen ini says submit ke twitter @kampus fiksi, berikut adalah komentarnya

Setelah saya cek ulang ternyata jumlah typo yang saya temukan adalah jeng…jeng… 24 buah. Ngeriyyy.


 

 

“Lewat bola matanya yang menyerupai bola kristal…. aku menyaksikan bagaimana aku meninggal….”1)

“Bagaimana? Bagaimana?” kedua bocah laki-laki yang bergelayut di lutut Mande berloncat-loncatan. Tidak sabar mendengar akhir cerita petualangan kakek mereka ketika mengalahkan seorang penyihir jahat.

“Aku akan meninggal…. kalau…. kalian tidak segera makan siang”

Arkan langsung berlari menuju dapur dan kembali dengan satu piring nasi lengkap dengan sayuran dan ayam goreng. Natan yang pada awalnya sempat mengeluh ketika Mande menyebut makan siang, akhirnya ikut berlari ke dapur. Ia tidak rela Arkan menjadi satu-satunya orang yang mendengar kelanjutan cerita Mande.

Mande terkekeh-kekeh menyaksikan kedua cucu laki-lakinya makan dengan kecepatan super.

***

Seseorang menepuk pundak Lika pelan, menyerahkan telepon kepadanya.

“Ibu,  semua tiket pesawat untuk penerbangan sepanjang pagi ini sudah habis. Mungkin aku akan naik kapal saja…. tapi terlalu lama….Arkan menelepon, katanya sudah akan berangkat…..Oh Tuhan….mengapa mendadak hujan….”

Lika mendnegar cerita Natan yang tidak tentu arah. Begitulah Natan jika terlalu khawatir. Ia berbicara bukan untuk didengarkan melainkan untuk mengalihkan kekacauan di dalam hatinya.

“Bu…..”panggil Natan Lirih. Lika siap mendengarkan.

“Bu, ke….kemarin….kemarin aku melewatkan makan siangku….”

Lika memegangi dadanya, berusaha melakukan pernapasan secara normal.

Beberapa menit selanjutnya ibu dan anak tersebut masih terhubung namun hanya ada hening dan saling berbalas napas pendek.

Natan yang  percaya bahwa Belanda dan Indonesia itu hanya terpisah ‘sepanjang kabel internet’ , bisa jadi sedang duduk lemas di lantai apartment-nya saat ini.

***

“Sekarang kamu merokok,” tanya Lika, mendekati Arkan yang lebih memilih berdiri di bawah salah satu pohon kamboja. Tidak bergabung dengan kerumuman pelayat yang tadi berkerumun di pinggir makan Mande.

“Tidak!” Arkan menjatuhkan rokok di tangannya, kemudian menginjaknya dengan kekuatan yang sedikit berlebihan hanya untuk memadamkan sebuah puntung rokok.

“Tadi Natan menelepon,” Lika mengapit tangan putra sulungnya, melangkah menjauhi area pemakaman.

Natan mengembangkan payung hitam sembari mengutuki langit yang seolah tidak berempati. Tidak bisakah ia sedikit lebih cerah?. Sejak kecil Arkan tidak pernah menyukai kelabu apalagi hitam. Karena keduanya erat dengan kehilangan. TIdak satu pun penghuni kolong langit menyukai kehilangan.

“Apa ia berceloteh tentang lupa makan siang karena mengejar dosen pembimbing?” tebak Arkan.

“Hm hm,” Lika bergumam singkat.

“Dia benar-benar berfikir dialah yang menyebabkan kakek meninggal.” Arkan membukakan pintu mobil, dan membantu Lika duduk dibangku penumpang sebelum ia sendiri memutar menuju bangku pengemudi.

“Ada apa dengan sepatumu?” Lika kembali memeperhatikan sepatu yang dikenakan Arkan. Lika bahkan tidak menyadari sejak mereka meninggalkan rumah duka bahwa Arkan menggenakan pasangan sepatu yang salah.

Bagian sebelah kiri adalah softball berwarna biru, dengan beberapa bagian luar yang mulai retak-retak, terutama pada bagian yang sering ditekuk ketika Arkan berlari. Lika ingat sepatu tersebut adalah hadiah ulang tahun Arkan yang ke-20 dari Mande. Sisi sebelah kanan, sebuah sepatu pantofel yang menurut perkiraan Lika satu nomor lebih kecil dari kaki Arkan.

“Bukan apa-apa” sahut Arkan santai. Arakan memutar kunci dan mobil menderu, meninggalkan pemakaman. Meninggalan Mande.

***

Dua jam sebelumnya,

Sebagian besar pelayat sudah bersiap-siap menuju kendaraan masing-masing. Prosesi pemakaman akan segera dimulai.

Arkan menatap Mande yang terbaring di dalam peti jati tanpa ukir. Bahkan dalam tidur abadinya, Mande tetap menyunggingkan senyum.

“Kau tau, kenapa Tuhan merahasiakan kematian?” tanya Arkan, seolah Mande bisa diajak bercakap-cakap seperti biasa.

“Supaya aku bisa memberitahumu, untuk tidak meninggal saat pertandingan final berlangsung?” Mande menjawab pertanyaan Arkan, dalam benak Arkan. Arkan bahkan membayangkan bagaimana Mande tertawa setelah memberikan jawaban konyol tersebut. Perut buncitnya ikut bergerak naik turun ketika ia tertawa.

“Sepatu ini hanya akan memperlambatmu,” Arskan memutari peti, melepas sepatu hitam mengkilat dari kaki kanan Mande. “Nah ini lebih baik,” lanjutnya setelah ia memasang sepatu softball miliknya ke kaki yang sama.

“Aku tidak tahu kalau ternyata kakimu kecil,” ucap Arkan lagi ketika ia kembali berdiri di samping Mande

Lagi-lagi, dalam benak Arkan, mande tertawa-tawa, kali ini sambil memperhatikan kaki kanannya yang mengenakan sepatu softball usang, “Bukankah sepatu ini sudah dibuang Ibumu?”

“Aku mengambilnya sebelum sempat dijual ibu dipasar loak,” Arkan menggeser kayu penutup peti. Ia menyaksikan ibunya dan beberapa orang laki-laki berjalan mendekat. Sudah saatnya berangkat.

“Hei…hei…tunggu…. bagaimana dengan yang sebelah kiri?. Aku tidak akan kemana-mana dengan pasangan sepatu yang salah,” protes Mande

“Kau memang tidak akan kemana-mana,” ujar Arkan menutup sempurna peti dihadapannya. Ia berusaha untuk membuat suaranya tidak bergetar. Meski hanya dalam imajinasi Arkan, Mande tetap mampu bersikap sombong jika ia menyadari bahwa ia berhasil mmebuat Arkan terguncang.

Arkan tidak menoleh ketika peti tersebut dibawa oleh empat orang petugas. Dari dalam peti yang sudah ditutup sekalipun, tawa Mande tetap berdengung di kepalanya.

***

“Jadi kau tidak akan membiarkan aku pergi?”

Arkan melepas jasnya, berpura-pura tidak mendengar perkataan Mande yang sedang tiduran di ranjangnya.

“Bagiamana jika aku menjawab benar, pertanyaanmu sebelumnya? Tentang mengapa Tuhan tidak merahasikan kematian?”

Arkan mulai tertarik. Meski demikan ia tetap memilih berpura-pura tidak peduli. Ia menganti kemeja dengan kaos putih dan memilih ikut berbaring di samping Mande, tanpa melepas sepatunya. Sekarang mereka berdua terlihat seperti dua orang gila dengan pasangan sepatu yang salah.

“Karena dengan begitu, kamu punya kesempatan untuk memilih. Pertandingan final atau aku. Siapa yang lebih berharga”

Arkan membalikan badan, memungguni Mande yang baru saja menjawab dengan benar. Dan cara Mande menjawab jelas ingin membuat suasana lebih dramatis.

“Menangislah….menangislah… aku tidak akan memberi tahu Natan, kalau kamu juga suka menangis”

Tawa Mande kembali membahana dalam benak Arkan, tawa yang berderai-derai setiap kali ia berhasil menjahili Arkan. Jika biasanya, Arkan merajuk ketika Mande mulai menjahilinya, kali ini Arkan memilih meringkuk di tempat tidurnya. Menangis.

“Tidak…. tidak…. kakek tidak akan kemana-mana…” katanya lirih, mempererat pelukananya terhadap sepatu softball miliknya.

***


1) salah satu percakapan dari film Big Fish.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s