[CERPEN] Harga Sebuah Kehidupan

Cerpen ini say abuat untuk memenuhi tugas bimbingan kampus fiksi minggu kedua. Terus terang saya menyukai idenya namun saya rasanya ini juga bukan cerpen yang dibuat dengan maksimal. Saya membuatnya beberapa jam sebelum deadline pengiriman kepada mentor kampus fiksi. Tidak punya waktu untuk mengendapkan dan membaca ulang.


Harga Sebuah Kehidupan

Oleh : Dia Febrina

 

Najundhar memelintir ujung kumisnya. BagianRambut hitam lebat yang tumbuh melintang diatas bibir tersebut bisa dibilang satu-satunya kebanggan Najundhar setelah ditinggal pergi istrinya dua tahun yang lalu. Najundhar mulai merawat kumisnya sejak ia berusia 14 tahun, ketika itu ia bercita-cita untuk menjadi polisi. Kalian tidak akan pernah tau bagaimana kumis bisa membuat kalian kaya jika kalian tidak pernah tinggal di India.

“Karna kumisku ini, aku mendapatkan bonus tiga kali lipat.”

Najundhar ingat barisan gigi kuning seorang inspektur pongah yang berkisah bagaimana ia mendapat tambahan bonus hanya karena keterampilannya merawat kumis. Kumis mencirikan kejantanan seorang laki-laki di India.

Bukan laki-laki yang perutnya ikut bergoyang ketika ia tertawa itu yang membuat Najundhar ingin menjadi polisi. Kenyataannya, memelintir kumis adalah pekerjaan laki-laki tersebut sepanjang hari, dilain waktu ia lebih banyak tertidur. Ia tidak perlu repot menanggapi teriakan copet. Karena di Calcutta copet beraksi setiap menit. Pelakunya dari segala usia dan segala jenis kelamin.

Najundhar ingin menjadi polisi karena nominal rupee yang dijanjikan oleh kumis yang meruncing pada kedua sisi pinggir tersebut. Empat puluh ribu Rupee ketika itu.

Najudhar memperhatikan lalu lalang di depannya. Lorong sempit yang penuh sesak. Tuk-tuk berdesak-desakan dengan manusia. Dari knalpot tuk-tuk yang rata-rata berusia lanjut tersebut tersembur asap hitam pekat. Terkadang beberapa mililiter oli ikut tersembut ketika pengemudi memaksa tuk-tuknya menyala.

Itu baru di udara, jika kalian sedikit menunduk, kalian akan menemukan got-got dengan air yang sama pekatnya dengan udara dari knalpot tuk-tuk. Baunya menyatu dengan karbondioksida dan makian penghuni kolong langit Calcutta. Sebenarnya tidak semua langit India berisi makian, pada hari-hari tertentu semua orang turun ke jalan, menari-nari sambil memanjatkan puja kepada dewa. Orang-orang yang punya keinginan bahkan bisa memanjatkan puja setiap hari.

Najundhar melirik sekali lagi ke arah perempuan dalam balutan sari yang dahulunya mungkin berwarna lebih terang. Bisa jadi wanita yang berada di seberang Najundhar tersebut tidak pernah lagi mendapatkan sari baru setelah hari pernikahannya. Dan itu adalah 16 tahun yang lalu.

Najudhar menyeberangi jalan ketika Laksmi, menaruh wadah yang menguarkan bau kemenyan ke udara, tepat di depan anak tangga rumah petaknya. Najundhar menatap bibir Laksmi yang komat-kamit meminta keberkatan Sang Dewa. Sepang bibir tebal itu pernah begitu membuat Najudhar terkesima belasan tahun yang lalu, ketika membentuk sebuah senyuman. Bibir yang sama juga membuat Najundhar patah hati karena Laksmi tersenyum untuk laki-laki lain di depan api suci penikahan.

“Ah! Kau sudah datang,” kata laksmi. Tangan kanannya terangkat ke udara dan bergoyang seirama dengan gelengan kepalanya.

Dia tetap menarik, tapi bukan itu tujuanku datang kemari. Najundhar mengingatkan dirinya sendiri. Ia mengikuti Laksmi menuju satu-satunya ruangan dia ruamh petak yang dikeluhkan Laksmi selalu naik uang sewanya.

“Siapa lagi yang menagih kalau bukan Si Polisi Gendut.” keluh Laksmi menuju sisi ruangan tempat berjejer sebuah kompor kecil, sebuah penggorengan dan rak piring kecil. Tidak ada lemari penyimpanan bahan makanan di sana, bisa jadi karena memang tidak ada yang bisa dimasak setelah satu-satunya laki-laki di rumah petak ini jatuh sakit sejak awal bulan.

Laksmi membawa cangkir berisi air putih dan duduk di sisi tempat tidur yang beresebarangan dengan Najundhar. Ia membantu Ravi,suaminya, duduk. Ravi menghabiskan air putih di dalam cangkir tersebut.

Tubuh Ravi jauh lebih kurus dibandingkan kali terakhir Najudhar bertemu dengannya. Najudhar ingat menumpang tuk-tuk Ravi bulan lalu menuju selatan kota calcutta. Tempat ia bernegosiasi dengan salah seorang calon kliennya.

“Satu ginjalmu akan dihargai 55.000 rupee. Itu cukup untuk menikahkan anak perempuanmu,” begitu kelakar Najudhar ketika itu.

Di negeri dimana tetap hidup adalah cita-cita, tidak akan ada yang menyarankan seseorang untuk mengunjungi dokter ketika sakit keras. Pilihan bagi mereka hanya dua. Menemui dewa dan memohon belaskasihan atau menemui Najundhar dan membuat perjanjian jual beli.

Najundhar ingat puluhan tahun yang lalu, ayahnya pulang dengan uang 25.000 rupee sambil memegangi sisi perut sebelah kirinya. Laki-laki setengah baya tersebut baru saja menjual ginjalnya demi mewujudkan mimpi Najundhar menjadi polisi.

Namun sayang, satu ginjal ayahnya dan kumis yang mulai tumbuh diwajah Najundhar, tidak mampu membuat ia menjadi polisi.

“UHUK!!!”

Batuk kering melenyapkan kenangan Najundhar tentang ayahnya.

Ravi terus terbatuk sambil memegangi dadanya.

Laksmi dengan cekatan menutupi mulut Ravi dengan kain, sembari menepuk-nepuk pundaknya.

Meski tidak melihat, Najundhar yakin, saat ini kain yang di tangan Laksmi sudah dipenuhi darah kental. Najundhar sudah puluhan kali mengalami hal semacam ini. Orang-orang yang meregang nyawa, setelahnya, akan terjadi perjanjian jual-beli. Hanya saja kali ini terasa lebih menyayat-nyayat hati. Ravi, meski sudah menikahi perempuan yang dicintai Najundhar adalah laki-laki baik, yang bahkan selalu menyisihkan pendapatannya untuk Sang Dewa.

“Menurutmu, berapa mereka akan membayar untuk tubuhku?” tanya Ravi lemah ketika batuknya mulai reda. Mata cekung tersebut menatap lurus ke arah Najundhar. Ia punya dua anak perempuan yang tetap harus dinikahkan. Dan semua biaya pernikahan akan terlalu berat jika ditanggung oleh Laksmi seorang disi, sepeninggalnya nanti.

Laksmi berdalih ingin memeriksa api puja yang tadi ia taruh di anak tangga.

Najundhar sempat menyaksikan manik bening disalah satu sudut mata Laksmi sebelum ia sempurna membalikan tubuhnya menju pintu. Najudhar menatap Ravi dari ujung kaki hingga ujung kepala, sengaja membuang pandangan ketika harus kembali bertatapan dengan mata cekung Ravi. Meski kaki kirinya sedikit bengkok, ranga tubuh Ravi masih lengkap. Ada banyak makelar yang biasa membeli rangka utuh manusia, katanya diluar negeri sana, tulang dijadikan alat praktik kedokteran.

Karena Ravi tidak suka minum-minuman keras, menurut Najundhar, sepasang ginjal Ravi masih cukup prima. Begitu juga degan jantungnya, Ravi terlalu miskin untuk menyantap makanan berlemak. Najudhar melewatkan hati. Dari kebanyakan klien yang ditanganinya, hati menjadi organ yang paling sering ditemui dalam kondisi rusak. Organ satu ini, bekerja sangat keras untuk mewujudkan cita-cita tuan-tuannya, bertahan hidup.

“Aku harap harganya cukup untuk membawa Laksmi dan kedua putri kami kembali ke kampung kami. Cukup untuk menikahkan putri pertama kami sehingga ia bis amembanu biaya pernikahan adiknya kelak….”

Najudhar mendadak sulit menelan ludahnya sendiri, kembali teringat ayahnya. Satu-satunya alasan mengapa ayahnya dahulu berani menjual ginjal untuk menyogok petugas agar memasukan nama Najudhar dalam daftar siswa angkatan kepolisian india adalah karena ia tidak mempunyai anak perempuan.

“Kalau aku punya anak perempuan, ginjalku ini adalah untuk biaya pernikahannya” begitu kata ayah Najundhar ketika itu.

Di India, anak perempuan adan anugerah. Menikahkan anak perempuan, bagian sebagian orang sama artinya dengan menyerahkan seluruh harta benda.

“Akan aku usahakan!” seru Najundhar setelah hitung-hitungan dalam benaknya selesai. Jumlah yang diharapkan Ravi cukup besar. Dari semua perjanjian bisnis yang ditanganinya, Najundhar bahkan belum pernah mencapai angka ¾ dari nilai yang diinginkan Ravi.

“Panggilkan Laksmi….” pinta Ravi, ketika Najundhar berdiri.

Najundhar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Semakin mendekati ambang pintu, Najundar menyadari gerakan naik-turun di pundak Laksmi. Sesekali diiringi isakan tertahan. Najundhar mengambil beberapa menit berdiri tepat disamping Laksmi. Menatap lurus keriuhan dihadapannya.

“Akan aku usahakan mendapatkan sertifikat. Dengan begitu, mungkin harganya akan lebih tinggi….” Najundhar sebenarnya berkata-kata untuk dirinya sendiri. Namun pemikiran yang ikut terlontar dari mulutnya tersebut juga dapat didengar oleh Laksmi.

Tentu saja untuk mendapatkan uang dalam waktu cepat, Najundhar selalu menawari kliennya untuk menjual organ tubuh mereka secara illegal. Secara hukum, penjualan organ tubuh manusia diperbolehkan selama mempunyai sertifikat asli yang menyatakan bahwa donor menyetujui organ-organnya diambil setelah ia meninggal. Dokumen artinya birokrasi, birokrasi artinya rumit. Rumit membutuhkan waktu dan juga uang. Jadi meskipun harga yang didapatkan lebih tinggi, kemungkinan untuk mendapatkan sertifikat asli adalah sulit.

Laksmi memegangi kaki Najundhar. Memohon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s