[menulis] dialog

Jia Effendie

beberapa hari ini dapat email dari creative-writing-now yang menawarkan kelas menulis dialog yang asyik. terus, jadi nyari-nyari, gimana sih, dialog yang bagus itu? berapa banyak porsi dialog dalam novel? gimana menulis dialog yang efektif? dll dll.

dari pengalamanku membaca banyak novel (dan buku-buku panduan menulis), jadi tahu kalau fungsi dialog antara lain adalah untuk menciptakan suara masing-masing karakter, untuk memperlihatkan perkembangan dan kedalaman sifat si tokoh, memajukan cerita (mempercepat pace, terutama), menciptakan ketegangan, juga memperlihatkan emosi, sikap, dan tujuan/keinginan karakter.

jadi, dialog bukan sekadar chit-chats antartokoh.

kalau enggak ada dialog, novel kamu bisa jadi membosankan karena terlalu banyak narasi. tapiii, kalau kebanyakan dialog pun, novel kamu jadi berasa kayak naskah drama. naskah drama yang kacau pula! jadi, kita harus pintar-pintar membagi porsi antara narasi (dan deskripsi), adegan (aksi), dan dialog.

ini tip menyeimbangkan porsi narasi, adegan, dan dialog menurut gloria kempton di writerdigest.com

tanya dirimu sendiri:

  • apakah ceritamu bergerak‚Ķ

View original post 572 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s