[Cerpen] Sepeda

Cerpen ini saya kirimkan kepada mentor kampus fiksi dalam rangka tugas bimbingan minggu pertama. Ini cerpen jelek. Saya menulisnya hanya karena alasan harus mengirim cerpen. Saya simpan karena bisa suatu saat bisa jadi cerpen jelek ini akan menjadi jembatan ingatan ke masa-masa yang bisa jadi akan terlupa.


SEPEDA

Oleh

Dia Febrina

“Dua puluh ribu untuk pakai di sekitar sini”, laki-laki tersebut menggerakan telunjuknya, mengikuti garis batas ruang terbuka yang setiap sisinya berbatasan dengan satu bangunan bersejarah. Musem Fatahillah pada sisi selatan, Museum POS pada sisi utara, Museum Wayang pada sisi timur dan Museum Bank Indonesia pada sisi barat.

Laki-laki tersebut memandang aku dan Angga bergantian, menunggu jawaban kami atas penawarannya. Tangannya kananya sibuk menggerak-gerakan ujung handuk kecil yang melingkar dilehernya. Ia bersiul, memanggil angin.

Aku memandangi sekitarku, puluhan pengunjung dengan sepeda ontel yang diwarnai dengan warna-warna cerah tampak berkeliling santai. Tak jauh dariku, puluhan sepeda lainnya terparkir rapi. Setelah aku perhatikan lebih lanjut, pada bagian belakang sepeda sewaan ini terdapat satu atau dua huruf yang mengidentifikasi pemiliknya. Sepeda di hadapanku, bertuliskan huruf KA. Tanpa sadar, otakku mulai menerka-nerka kemungkinan arti inisial tersebut. Kadir? Kang Adang? Kang Asep?

“Kalau mau dibawa sampai jembatan merah, bayar lima puluh ribu”, lanjutnya menepuk-nepuk sadel sepeda tersebut. Ujung handuk yang tadi digunakan untuk mengipasi tubuhnya, ia lapkan ke keningnya. Di sana bulir-bulir keringat berjatuhan dari dahinya yang menghitam. Terlalu sering berada dibawah matahari.

Di sebut jembatan merah karena warna besi-besi penyusun jembatan gantung tersebut dicat dengan warna merah. Letaknya memang terletak agak jauh dari lapangan Musem Fatahillah, namun masih berada dalam satu kawasan cagar budaya kota tua.

“Apa tidak sebaiknya kita mengunjungi museum dulu?” tanyaku. Dengan suhu udara yang mencapai 33 derajat celcius seperti ini, bersepeda bukan satu pilihan yang bagus,bagiku

Angga mengikuti arah pandanganku, menatap bangunan memanjang dengan jendela-jendela tinggi yang terbuat dari kayu. Beberapa orang pengunjung mengabadikan keberadaan mereka di bangunan yang dahulunya digunakan sebagai kantor Gubernur Batavia tersebut dengan kamera ponsel.

“Sudah pukul dua”, lanjutku. Teriknya sinar matahari dipantulkan kembali oleh permukaan jam ditangan kiriku sehingga aku harus menutupinya agar bisa menyaksikan kemana jarum-jarumnya mengarah. Sebagian besar museum yang ada dikawasan kota tua ini memang tutup sekitar pukul tiga.

“Kmu yakin, nggak mau sepedaan aja? Kayaknya rame loh”

Aku menggelengkan kepala. Mendahuluinya menyeberangi lapangan, menuju Museum Fatahillah.

“Foto Mbak? Lima ribu saja”, tawar seorang perempuan ketika kami semakin dekat dengan Museum Fatahillah. Aku tersenyum sembari mengangkat tangan, menolaknya halus.

Perempuan tersebut menggenakan gaun berwarna putih dengan bagian rok mengembang ala putri-putri eropa zaman dulu. Meski tidak terbuat dari sutra, sebuah topi putih dan payung dengan renda-renda yang juga berwarna putih, perempuan bertubuh tambun tersebut sedang berusaha menunjukan jati dirinya sebagai seorang nona Belanda.

“ Mereka menyebut diri mereka manusia patung, tapi menurutku hanya laki-laki yang berdiri disana yang benar-benar mirip patung“

Angga menujuk seorang laki-laki dengan pakaian loreng ala Tentara Negara Indonesia lengkap dengan senjata laras panjang di pundaknya. Ia berdiri di samping sebuah meriam tepat di depan Musem Fatahillah.

Sekilas, keberadaan meriam tersebut, apalagi dengan moncongnya yang menghadap ke laut bagian utara Jakarta, menyiratkan pengusiran terhadap para penjajah. Padahal dalam salah satu buku yang memuat sejarah kota jakarta, meriam tersebut merupakan meriam yang digunakan Portugis untuk mempertahankan Kekuasaannya di Malaka, sebelum dipindahkan ke depan Museum Fatahillah.

Kesamaan perempuan dengan dandanan ala Belanda yang tadi menyapaku dan laki-laki berseragam tentara di dekat meriam Si jagur sana adalah bahwa keduanya meminta upah lima ribu rupiah untuk setiap pengunjung yang ingin berforo bersama mereka.

“Kamu yakin, tidak ingin naik sepeda?” tanya kembai ketika kami menaiki anak tangga menuju pintu masuk Museum Fatahillah.

“Kamu tau bukan? Kalau di Belanda kemana-mana harus menggunakan sepeda?”, Angga mendelik ke arahku, tidak lupa ia mengangkat satu alisnya.

“Iya tau” nada suaraku sedikit meninggi. Aku tidak suka setiap kali Angga mengungkit-ungkit masalah aku yang tidak bisa mengendarai sepeda.

Angga tertawa menyaksikan raut mukaku yang berubah kesal. Ah! Aku akan merindukan tawa renyah itu nanti. Aku segera memalingkah wajahku dari wajah tepat ketika ia menghentikan tawanya. Mata kami sempat beradu beberapa detik. Aku yakin wajahku bersemu merah karena baru saja tertangkap basah menatapnya. Beruntung sejak pertama kali turun dari halte Trans Jakarta – Kota wajahku sudah mulai memerah. Mungkin harusnya aku berterima kasih kepada matahari.

“Kita naik sepeda ajalah”

Kali ini, Angga tidak merasa perlu meminta persetujuanku. Ia mencengkram pergelangan tanganku, dan menarikku kembali menuju laki-laki yang tadi menawarkan sepedanya.

“Pak mau yang ini” katanya menunjuk sepeda ontel berwarna hijau terang. Ia menyerahkan topi dengan warna yang sama kepadaku. Sepeda dan topi dengan pinggiran lebar merupakan paket lengkap.

“Kita bisa mengunjungi museum ketika kamu pulang nanti. Tapi di Belanda nanti, tidak ada yang akan mengajarimu menggunakan sepeda”

Aku tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s