[CERPEN] PERTEMUAN KEDUA

Cerpen ini saya buat dalam rangka tantangan membuat cerpen, salah satu rangkaian acara KampusFiksi angkatan 8 yang diadakan oleh DivaPress. Bagian yang ditebalkan merupakan bagian yang dinyatakan salah oleh editor pembimbing. 

PERTEMUAN KEDUA

Oleh Dia Febrina

 

Aku mengetik(k)an pesan pendek, mengirimkannya kepada klien, orang yang bersedia membawayarku $2000 untuk nyawa seorang laki-laki paruh baya. Satu detik yang lalu aku baru saja berhasil mendownload wajah pria malang tersebut.

“ Apa ini ? “ (Setelah dan sebelum tanda ” dalam petikan langsung tidak ada spasi)

Seperti dugaanku, ia langsung menghubungiku.

“ Kirimkan pesan barusan bersamaan dengan lokasi yang aku kirim sebelumnya. Ini adalah perperangan terbuka “

“ Aku membayarmu untuk membunuhnya. Diam-diam “ nada suaranya menyimpan geram.

“ Tenang saja, tugasmu hanya memastikan ia datang, setelahnya urusan ini akan menjadi urusan pribadi. Kau akan menemukan drama keluarga di halaman koran pagi selanjutnya “

Aku menutup ponsel. (Kalimat ini disatukan dengan kalimat sebelumnya, karena masih dilakukan oleh orang yang sama)

Sebatang kara adalah kondisi paling ideal untuk profesi pembunuh bayaran sepertiku. Tidak ada pertaruhan untuk keberhasilan juga untuk sebuah kegagalan. Sayangnya para penegak kebenaran justru memupuk keluarga. Juga cinta.

Cih! Mereka tak paham, kedua hal itulah hanya perlu menunggu waktu untuk menjelma menjadi mimpi buruk.

Jangan sampai kita bertemu untuk kedua kali, karena setelahnya tidak akan ada kali ketiga.

Kembali aku baca pesan singkat barusan. Ini bukan hanya menjadi perang terbuka melainkan menjadi hari pembuktian.

***

Lima Tahun Yang Lalu. (Hanya huruf L yang ditulis dengan huruf besar)

“ Bapak, ingin bertemu “

Aku ingat laki-laki seragam (pada) donker kebesaran tersebut. Ia mendatangiku tepat setelah seluruh penggiring lainnya meninggalkan makam Ibu. Dari sepatu pantofelnya yang mengkilat, rambut yang disisir rapi dan juga wangi tubuhnya, aku mengetahui pasti siapa dia dan siapa yang disebutnya bBapak. (Kata sapaan yang merujuk kepada orang harus ditulis dengan huruf besar jika sudut pandang cerita adalah orang pertama, jika suduat pandang adalah orang ketiga maka kata sapaan ditulis dengan huruf besar hanya ketika dalam kutipan langsung)

Dia adalah pejabat negara yang sudah mempunyai dua anak perempuan yang rupawan. Namanya mulai menanjak setelah beberapa kali berhasil dalam operasi tangkap tangan. (Jelaskan profesi Bapak yang sesungguhnya, jangan rancu) Sayangnya tidak banyak yang mengetaui bahwa kedua anak perempuan tersebut lahir dari istri kedua. Istri pertamanya, adalah wanita bermata teduh yang jasadnya baru saja aku tanamkan ke tanah.

“ Aku tidak ingin (Bagusnya aku tidak mau) “ jawabku ketika itu. Jawaban yang nyaris menyerupai bisikan (kurang menjelaskan tentang emosi kemarahan yang dirasakan tokoh, padahal yang dimaksud adalah nada suara yang dingin) tersebut aku kira tetap bisa membuat ia merinding.

“ Katakan kepadanya, kami bertemu pertama kali ketika aku lahir. Jangan sampai kami bertemu untuk kedua kalinya “

Aku menatap nisan dihadapanku. Teringat bagaimana perempuan ringkih kesayanganku tersebut meringis menahan perih diperut bagian bawahnya. Tuhan terkadang memang kelewatan. Rahim yang hanya digunakan sekali tersebut justru menjadi alasan untuk menghilangkan nyawanya.

Namun kalau aku pikir lebih lanjut, bukan sel-sel ganas tersbeut yang membuat ibu meninggal, melainkan rindu yang tidak pernah berbalas. Setiap hari ibu menata rambutnya, menggenakan pakaian terbaiknya bahkan menyajikan kopi hitam pekat dan pisang goreng. Seseolah seseorang akan muncul dari balik pintu, mampir sekedar untuk sarapan sebelum kembali ke pangkuan sitri mudanya.

Sayangnya, seseorang yang ia nanti, tidak pernah muncul. Ia malah mengirimkan kurir dengan satu amplol tebal setiap awal bulan. Tentu saja ibu tidak pernah menolaknya. Ada hal yang tidak bisa ditebus dengan uang. Bagi ibu, rindu adalah salah satunya.

“Jangan sampai kita bertemu untuk kedua kali, karena setelahnya tidak akan ada kali ketiga “

Petir menggelegar diangkasa yang tidak mendung. Aku baru saja menyampaikan sumpahku, dihadapan makam ibu. Dan seharusnya ia, juga majikan yang dipanggilnya bapak paham bahwa aku tidak sedang main-main. (Super alay bin lebay)

***

Abraham terpekur di depan nisan Kinarsih. Tidak ada yang dibawa Kinarsih ke sisi Tuhan selain kesederhanaan, termasuk nisan dari batu kali dimana namanya diguratkan. Abraham membelai nisan tersebut seolah ia adalah jelmaan dari Kinarsih itu sendiri.

Dinginya udara malam dan gemerisik daun pohon kamboja juga kisah mistis sputar pemakaman umum ini sama sekali tidak mengusiknya. Ia larut dalam kenangan yang menebarkan bau masa lalu. Wangi pada masa-masa awal, busuk pada bagian akhir.

“ Kinar, maafkan aku…. “ ada getir dalam suaranya.

“ Orang mati tidak mendengar “

Abraham tidak merasa perlu untuk berbalik untuk mengetahui siapa yang baru saja bergabung. Pertemuan ini, seharusnya terjadi sepuluh tahun yang lalu.

“ Kau punya permintaan terakhir? “

Abraham merasakan ujung senapan pistol ditengkuknya. Namun jantungnya sama sekali tidak berdenyar lebih cepat.

“ Apa kamu selalu menanyakan hal yang sama kepada korbanmu? “

Dengan santai Abraham memberikan dirinya sendiri waktu, untuk menaburkan bunga dipermukaan makam Kinarsih. Tidak ada jawaban. Abraham tersenyum kecil. Ia paham, ia istimewa.

Abraham berdiri, mulut senapan tersebut terus menempel dikulitnya, sempat mengambil jarak ketika Abraham mebalikan tubuhnya.

“ Kalau begitu, biarkan aku mati dengan menatapmu “

Aku (Sudut pandang cerita sudah berganti ke POV 3, kenapa ada POV 1?) Lelaki yang menodonkan pistol tersebut tersenyum sinis.

Dua pasang mata yang menurut Kinarsih mirip tersebut terus berpandangan. Bahkan sampai ketika timah panas menembus mulutnya hingga ke bagian belakang tengkoraknya.

***

 

Aku akang mengingat tatapan itu seumur hidupku. Itu bukan sebuah ketakutan, melainkan sebuah permohonan ampun.

Ia bisa jadi pahlawan bagi semua orang tapi ia adalah seorang penjahat ketika ia meninggalkan anak juga istrinya. Dan ia mengetahui itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s