Tentang Pahala dan Dosa

Gambar diambil disini

” Jika surga dan neraka tak pernah ada..

Masihkah kau, tunduk kepada-Nya ”

Sebait lagu yang dinyanyikan Ahmad Dhani dan Crishye berdengung dalam kepala saya setelah sore ini saya merelakan kursi saya untuk seorang ibu dengan seorang gadis kecil.

Jika ditanya relakah saya menyerahkan kursi tersebut? Tentu saja tidak, apalagi ini adalah kali pertama saya mendapat tempat duduk di jam pulang kantor setelah sebulan terakhir bolak-balik Senayan -Glodok. Bukan jarak yang jauh namun cukup pegal dengan tas panggul berisi laptop dan jalanan menuju Lampu mereh Harmoni selalu padat, begitu juga dengan jalanan menuju Bundaran HI yang mengalami penyempitan jalan.

Ketidakikhlasan hanya akan membawa kesia-siaan.

Pernah mendengar pernyataan diatas? Bahwa ketidakikhlasan tidak akan menambahkan satu turus catatan di kolom buku catatan amal. Tidak pada sisi amal baik tidak pula pada sisi amal buruk. Itulah mengapa sebagian orang mengatakan ketidakikhlasan adalah bentuk lain dalam sebuah kesia-siaan (amal)

Namun. Sore ini sesuatu baru saja mengetuk pikiran saya. Benarkan segala tidak ikhlas tersebut tidak menghasilkan apapun? Sama seperti perkataan kebanyakan orang bahwa berkerudung namun belum kaffah, belum sempurna, sama saja dengan tidak berkerudung sama sekali?

Tuhan memberikan aturan melalui kitab suci juga melalui para nabi. Namun menurut saya kehidupan bukan semata-mata tentang hitungan matematis sederhana, setika setiap kebaikan dinilai +1 dan keburukan -1.

Kalau dipikir lebih jauh, bisa jadi hitung-hitungan manusia tentang amal inilah yang membuat mereka kehilangan empati. Ngapain ngasih kursi ke golongan prioritas kalau tidak ihklas? Rasa-rasanya Tuhan tidak menyiapkan parameter penilaian sesederhana itu. Bisa jadi menyerahkan kursi dengan hati kesal jauh lebih baik dari pada tetap duduk dengan mengatas namakan ikhlas.

Masih perlu pembuktian matematis?

Begini, anggap saja kamu kehilangan kesempatan mendapatkan pahala karena menyerahkan kursi tanpa keikhlasan, tapi bukankah kamu mendapatkan pahala karena baru saja berbuat baik? Bandingkan dengan kamu tetap duduk, kamu tidak menambahkan apapun ke dalam tabungan amal baikmu bukan?

Saya mungkin salah. Tapi tak apa, siapa pun bisa salah jika sudah menebak-nebak ketuhanan bukan?. Saya akan terus memohon agar Tuhan menggiring saya menuju Dia melalui ‘kesalahan-kesalahan’ kecil seperti ini.

Mungkin kita hanya perlu berhenti melakukan hitung-hitungan tentang surga dan neraka. Itu adalah urusan Tuhan. Tugas kita hanya menjalani hidup kalau bisa dipenuhi kebaikan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s