Menjaga Hati

Gambar diambil disini

” Ya paling berusaha menjaga hati saja ”

Menjaga hati. Itu yang akan dilakukan oleh salah seorang teman (perempuan) saya yang sudah terlanjur berharap lebih atas sikap baik salah seorang teman (laki-laki) yang lain. Bukan satu hal yang salah kalau saja si laki-laki belum mempunyai kekasih.

Namun hati sudah terlanjur mengambil peran lewat pesan-pesan singkat yang dikirimkan secara intens, beberapa kali antara jemput kosan-kantor dan sesekali jalan bareng. Beberapa laki-laki menganggap rangkaian tindakan yang wajar untuk seseorang teman dan bagi beberapa perempuan ini adalah tindakan istimewa yang tidak dilakukan hanya jika hubungan keduanya adalah seorang teman.

Saya adalah termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan kisah percintaan orang-orang disekitar saja. Maksud saya, saya tidak ingin campur apalagi jika ini melibatkan tiga orang dan satu status yang sudah pasti. Tapi kalau saya dimintai pendapat tentang hal ini maka inilah yang bisa saya katakan.

Kalau ia bisa ninggalin ceweknya demi lo, lo yakin dia nggak akan ninggalin lo demi cewek lain? Kalau yakin ya sudah lanjut. Kalau nggak yakin jangan lanjut. Kalau maksa trus gagal, nggak usah mewek, karena sejak awal lo udah tau akhirnya akan seperti apa.

” Hati sih nggak bisa dijaga. Kalau naksir ya naksir aja ”

Begitu komentar saya ketika itu. Bagi seseorang menjaga hati mungkin bisa dilakukan. Bagi saja hati adalah titik yang paling sulit dikendalikan. Menurut saya, dari pada menjaga hati, menjaga sikap jauh lebih mudah. Jika akhirnya hati ikut terjaga, sebut saja bonus.

Untuk kasus teman saya ini, yang saya sebut dengan menjaga sikap ini bisa dimulai dengan

1. Menolak untuk keluar hanya berdua. Karena ketika hati sudah berdenting jalan berdua punya makna yang juga berdua dan terkadang justru membuat hati semakin berdenting lebih kencang.

2. Kurangi memberi komentar intens di semua media sosial atau kurangi intensitas berbalas pesan. Balas secukupnya.

Ya kira-kira seperti itulah. Saya juga nggak jago-jago amat soal beginian.

Bukan karena dia PHP kamu sakit hati. Tapi karena kamu membiarkan diri di PHP-in makanya kamu sakit hati.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s