Invisible

Gambar diambil disini

Apa rasanya menjadi tidak terlihat?

Sepertinya akan menakjubkan. Duduk sepanjang hari di sebuah bangku taman. Menyaksikan lalu-lalang manusia kemudian memperhatikan tingkah polah mereka, dua remaja yang malu-malu, sekelompok kanak-kanak yang berlarian, sepasang kekasih senja yang mengukir iri dalam hening, juga suara meleng-king pedagang asungan.

Menyelesaikan barisan buku yang menyesak sudut-sudut kamar tanpa pernah benar-benar disentuh. Sesekali berhenti pada halaman tertentu, memejamkan mata untuk sekedar mendengar ceracau angin. Terkadang kantuk menyerang, tidak salah untuk meluruskan kaki, kemudian memejamkan mata sejenak. Hangatnya mentari menjadi selimut untuk jiwa-jiwa yang terlalu mendekam dalam ruang kedap cahaya.

Menjadi tidak terlihat.

Mungkin dengan begitu satu beban untuk terlihat normal akan lenyap. Hadir sebagai mana yang dikehendaki oleh jiwa tanpa pernah takut akan pendapat manusia lainnya. Normal menjadi momok luar biasa yang membuat manusia rela menjadi orang lain. Tidak ada yang benar-benar pasti tentang normal. Batasannya selalu bergeser mulai dari kuantitas pengikut hingga kasta sosial.

Menjadi tidak terlihat.

Benarkan semuanya akan lebih baik hanya dengan menjadi tidak terlihat?

Entahlah! Tapi ketika kefanaan tersebut sudah menjadi rutintas, manusia akan rindu untuk terlihat. Rindu untuk diakui.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s